* Naik Hysteria Demi Cinta *
Oleh : Danang Prasetyo Wibowo
Pada suatu hari sekolah Justin mengadakan Study Tour ke Jakarta, Justin dan teman – temannyapun mempersiapkan semua dengan matang untuk acara tersebut, teman sekelas yang satu bus dengan Justin adalah David, Rudi, Maya, dan Julia, kebetulan mereka semua adalah teman baik, merekapun berangkat bersama – sama. Di bus mereka duduknya di atur oleh bapak ibu guru, ternyata Justin duduk dengan Budi, Budi adalah anak kelas yang ada di sebelah timur kelas Justin, kebetulan Budi adalah teman Justin kalau pulang sekolah. “Eh Bud!, kamu bawa uang berapa?”, tanya Justin. “Aku bawa uang 400 ribu rupiah”, kata Budi. “Wow . . . banyak sekali”, kata Justin sambil matanya melotot. “Memang kamu bawa uang berapa?, kok uang 400 ribu saja kamu terkejud!”, tanya Budi sambil heran. “Aku saja cuma bawa uang 150 ribu!”, kata Justin. “O . . . tenang saja, pasti nanti ku traktir”, kata Budi. “Oke”, jawab Justin sambil tersenyum. Merekapun memulai perjalanan ke Jakarta setelah terlebih dahulu berkunjung ke Semarang tepatnya di Museum Jamu Ny Meneer dan Masjid Agung Jateng.
Pada saat bus tengah berjalan, pemandu wisata menawarkan bagi yang mau berkarauke, “Ayo, siapa mau nyanyi di depan?”, kata pemandu wisata. “Saya”, kata Justin dengan gembira. “Siapa nama adik?”, tanya pemandu wisata. “Nama saya Justin!” jawab Justin, “Oke semua, ini ada adik Justin yang mau menyanyi, silahkan!”, kata pemandu wisata sambil tersenyum. Justinpun menyanyi sampai tidak terasa kami sudah sampai di Ancol, Justin dan kawan – kawan langsung masuk, Justin masuk bersama Budi, Rudi dan David. “Ayo, adik mana tiketnya?”, tanya petugas karcis pada Justin, “Ini kak!”, jawab Justin. Semuapun masuk, Justin dan kawan – kawan bingung ketika melihat banyak sekali permainan di Ancol. “Eg Bud, kamu mau naik apa?” tanya Justin. “Aku juga bingung, lagipula antriannya panjang sekali!”, jawab Budi. “Iya nih!”, jawab Justin. “Eg Justin bagaimana kalau kita naik Hysteria, lagipula antrian di Hysteria tidak panjang!”, kata Budi. “Mmmm . . . tapi Bud, aku takut Bud!” kata Justin, “Gag papa, ayo. . nanti duduk dengan ku”, kata Budi. Merekapun berjalan bersama ke wahana yang menantang itu.
Sesampainya di sana merekapun antri seperti yang lainnya, “Eg Bud, aku gag yakin ni!”, kata Justin sambil gemeteran. “Tidak apa – apa, yakin saja kamu pasti bisa”, kata Budi. “Mmm . . bagaimana ya Bud!, aku masih takut nih”, kata Justin. “Tidak apa – apa, coba, kamu bayangkan saja, kamu naik itu untuk seseorang yang kamu cinta”, kata Budi berlagak romantic. “Mmm, . . . bagaimana ya, oke demi orang yang aku cinta, aku akan naik wahana ini”, jawab Justin tegas kali ini. Mereka berduapun naik wahana itu, setelah beberapa menit di hempaskan keudara, merekapun selesai dan duduk di bawah pohon. Uwek . . . uwek . . uwek, terdengar suara orang muntah, “Eh kamu kenapa Bud?” tanya Justin. “Gag tahu ni, aku mual”, kata Budi. “Wuh . . . kamu payah, aku saja tidak mual, hahahahaha, kamu yang ngajak, kamu juga yang gag kuat, kaya lagunya 7 Icon aja. Gag . . . gag . . gag kuat, gag . . . gag . . gag kuat, aku gag kuat naik Hysteria, hahahah, wkwkwkwkwkwk”, kata Justin sambil tertawa terbahak – bahak.
Merekapun melanjutkan dengan permainan yang lainnya, dan pulang dengan hati yang senang, juga raga yang lelah, banyak cerita – cerita indah yang mereka alami, dari cerita lucu sampai cerita tentang cintapun ada, hah itulah anak remaja.
Dilarang Mencopy Tanpa Izin
Yang mau copy, tolong mengisi informasi pada Comment Post Ini